• May 22, 2026 11:14 pm
Militer Kuba Diyakini Lemah jika AS Ingin Menyerangnya

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Raul Castro.(Al Jazeera)

MILITER Kuba, yang pada puncak Perang Dingin pernah mengerahkan puluhan ribu tentara terlatih dari Angola hingga Suriah, kini hanyalah bayang-bayang dari kejayaan masa lalunya. Di saat Amerika Serikat mengirim kapal induk ke Karibia sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap pemerintahan komunis di pulau tersebut, kekuatan pertahanan Kuba dilaporkan berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

Hingga runtuhnya Uni Soviet, Kuba memiliki angkatan perang dengan lebih dari 200.000 personel. Saat ini, jumlah tentara aktif menyusut drastis menjadi sekitar 40.000 hingga 45.000 prajurit. Angkatan Udara Kuba, yang dulu dianggap salah satu yang terbaik di Amerika Latin dengan jet tempur MiG Soviet, kini hanya memiliki segelintir pesawat yang kemungkinan besar sudah tidak layak terbang.

“Kuba dulu memiliki militer kelas satu di negara dunia ketiga,” ujar Frank Mora, mantan pejabat pertahanan era Barack Obama. “Sekarang, militer itu hanyalah cangkang dari masa lalunya dan tidak memiliki peluang melawan kekuatan militer AS.”

Narasi Ancaman dan Sanksi Baru

Meskipun para ahli menilai kekuatan militer Kuba melemah, pemerintahan Donald Trump justru mengambil sudut pandang berbeda. Pada Januari lalu, Trump menandatangani perintah yang menyatakan Kuba sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional AS. Washington menuduh Havana bersekutu dengan kelompok teroris dan rival global seperti Rusia dan Tiongkok.

Bulan ini, ketegangan semakin memuncak setelah AS mendakwa mantan Presiden Raul Castro, 94, atas tuduhan pembunuhan dan menjatuhkan sanksi baru terhadap kepemimpinan militer Kuba. Selain itu, laporan intelijen yang dikutip Axios menyebutkan Havana mengakuisisi 300 drone yang berpotensi ditargetkan ke pangkalan Teluk Guantanamo atau Key West, Florida, jika terjadi serangan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menuduh Kuba menjadi tuan rumah bagi basis intelijen Tiongkok dan Rusia. “Memiliki negara gagal yang dikelola oleh teman-teman musuh kita hanya berjarak 90 mil dari pantai kita adalah ancaman keamanan nasional,” tegas Rubio.

Kondisi Terkini Pertahanan Kuba:

  • Personel: Turun dari 200.000 menjadi sekitar 40.000-45.000 tentara aktif.
  • Alutsista: Jet tempur MiG dan kapal fregat Soviet sebagian besar tidak beroperasi.
  • Logistik: Krisis bahan bakar akut; Kuba hanya memproduksi 40% kebutuhan minyak mentah harian.
  • Doktrin: Mengandalkan Perang Seluruh Rakyat (gerilya rakyat sipil).

Doktrin Perang Seluruh Rakyat

Menghadapi kemungkinan invasi, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel memperingatkan bahwa aksi militer AS akan memicu pertumpahan darah dengan konsekuensi yang tak terhitung. Kuba mengandalkan doktrin pertahanan yang dikenal sebagai War of All the People (Perang Seluruh Rakyat) yang dicetuskan Fidel Castro pada 1980.

Dalam latihan pertahanan nasional, televisi pemerintah sering menampilkan warga lansia yang berlatih menembak dengan senapan AK-47 tua dan warga sipil yang memasang ranjau. Bahkan, terdapat rekaman yang menunjukkan gerobak sapi digunakan untuk mengangkut artileri akibat kelangkaan bahan bakar.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan blokade pengiriman minyak melumpuhkan mobilitas militer Kuba. Pemadaman listrik nasional terjadi setiap hari dan jalan-jalan di Havana tampak kosong karena ketiadaan bahan bakar. Para ahli menilai, meski Kuba tidak memiliki kemampuan ofensif, mereka akan menggunakan taktik gerilya untuk bertahan hidup jika invasi benar-benar terjadi. (WSJ/I-2)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Militer Kuba Diyakini Lemah jika AS Ingin Menyerangnya” pada 2026-05-22 15:06:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *